MENGAPA NU BIJAKSANA SEDANG WAHABI TIDAK
Saya pernah membaca artikel “Mengapa NU lucu sedang Muhammadiyah tidak” yang ditulis oleh seseorang yang saya lupa namanya. Nah kali ini saya akan menulis hal yang senada tapi tak sama yaitu tentang : “Mengapa NU Bijaksana sedang Wahabi Tidak.”
Ulama-ulama NU lebih bijaksana daripada ulama-ulama Wahabi karena mereka tidak hanya menggunakan kecerdasan intelektualnya saja tapi juga kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritualnya sedang ulama Wahabi seringkali hanya mengandalkan kecerdasan akalnya semata. Ulama-ulama NU menggunakan tidak hanya otak kirinya tapi juga otak kanan dan hati nuraninya sedang ulama Wahabi cenderung lebih menekankan pada otak kirinya saja. Ulama NU tidak hanya mengandalkan kitab yang tertulis saja tapi juga menggunakan kitab alam semesta yang tak tertulis sedang ulama Wahabi cenderung hanya mengandalkan apa yang tertulis saja (dogmatis & tekstual).
Saya bahkan cenderung menganggap kaum Wahabi sebagai kaum penyembah kitab dan pemuja tulisan. Dalam setiap debat mereka akan selalu mengatakan “Mana dalilnya?” seakan hidup ini hanya terdiri dari dalil dan dalil saja. Hidup ini sedemikian rumit dan kompleks dan tidak semua yang ada di kehidupan dan alam semesta ini tertulis di kitab. Contohnya adalah bakteri, sel, DNA, atom, ion, partikel, energi listrik, galaksi, nebula, lubang hitam dan lain-lain. Itu semua tidak ada di kitab tapi bukan berarti tidak ada karena sekarang sains modern sudah menemukan dan bisa menjelaskannya bahkan mengeksplorasi dan memanfaatkannya demi kesejahteraan manusia.
Itulah sebabnya dikatakan “jika seluruh lautan menjadi tinta dan seluruh pohon jadi pena maka itu tidak cukup untuk menuliskan firman / keluasan ilmu Tuhan”. Ulama NU sadar betul hal itu sehingga mereka tidak hanya ngaji kitab yang tertulis tapi juga mengaji / mengkaji kehidupan dan alam semesta yang merupakan kitab yang tak tertulis ini (Kalam Muktabar).
Sekarang ini paham yang berakar pada aliran Wahabi menjamur dan berkembang pesat di seluruh dunia. Mereka menyerukan Pan Islamisme dan kejayaan Kerajaan Islam Sedunia sehingga memicu lahirnya berbagai kelompok militan, radikal, fundamentalis, ekstremis hingga gerakan teroris. Tapi mengapa NU tidak ikut-ikutan ataupun terlibat dalam trend tersebut? Sebabnya NU sudah memiliki pedoman sendiri yang berbeda dengan pedoman yang diikuti kaum Wahabi. Lho bukankah pedoman orang NU dan orang Wahabi adalah sama-sama Al Quran dan Al Hadist? Nah disinilah pembicaraan akan menjadi semakin menarik.
Kaum Wahabi sangat gemar membahas dan membicarakan mengenai isu jihad dan perjuangan agama yang katanya mereka ikuti berdasar apa yang tertulis dalam Al Quran dan Al Hadist. Tapi apakah ulama NU tidak mengetahui hal ini? Jika Al Quran dan Hadistnya sama tapi mengapa NU tidak memiliki atau menghasilkan output pemikiran dan tindakan yang sama dengan kaum Wahabi? Sebenarnya para ulama NU terdahulupun sudah mengetahui bahkan hapal dengan “ayat-ayat perang” tersebut tapi mereka tidak menafsirkannya secara leterlek dan mentah-mentah sebagaimana ulama dan kaum Wahabi yang cenderung hanya menafsirkannya secara tekstual dari domain otak kiri saja tanpa kecerdasan emosional apalagi kecerdasan spiritual. Ulama Wahabi boleh saja hapal ribuan ayat dan kitab tapi belum tentu mereka bisa mengenal Tuhan.
Ulama NU tahu kapan ayat perang tersebut harus dipakai dan kapan tidak perlu dipakai. Ulama NU tahu kapan harus menempatkan sesuatu sesuai dengan waktu, tempat, situasi dan kondisi yang tepat bukan asal hantam kromo tanpa mempertimbangkan berbagai faktor yang kompleks. Tapi di saat situasi dan waktu yang tepat maka ulama NU pun akan menggunakannya contohnya adalah saat Resolusi Jihad dikumandangkan oleh KH. Hasyim Asyari pada tahun 1945 untuk membela negara dan mengusir penjajah dari Bumi Pertiwi. Tapi beliau tidak menggunakan ayat perang tersebut untuk merebut pemerintahan yang sah apalagi melakukan makar dan kudeta meskipun umat muslim khususnya NU adalah mayoritas di negeri ini. Hal ini berbeda dengan kaum Wahabi yang akan selalu menggunakan ayat-ayat perang tersebut untuk berusaha meraih, merebut dan mempertahankan kekuasaan.
Ulama NU bukan sekedar ulama penyembah kitab dan pemuja ayat / tulisan. Mereka juga adalah para sufi yang berusaha mencari hidayah, inspirasi batin dan petunjuk ruhani dari Tuhan yang kadang bahkan tidak tertulis di dalam kitab manapun. Itulah sebabnya kaum Wahabi sering menganggap ulama NU sesat, murtad, bid’ah, kafir dan munafik padahal justru mereka sendiri yang sebenarnya gagal paham dan tidak mampu mengetahui kedalaman dan keluasan ilmu para kyai sepuh NU.
Mengapa para ulama NU sangat jarang membahas tentang ayat-ayat perang sebagaimana kaum Wahabi? Sebabnya adalah para ulama NU ini bisa memahami kehendak Tuhan dan teladan Nabi Muhammad SAW. Jamannya Nabi Muhammad adalah jaman yang berbeda dengan jaman kita sekarang. Saat itu umat Islam ditindas dan dianiaya secara luar biasa oleh kaum Quraish sehingga Malaikat Jibrilpun memerintahkan kepada Nabi untuk berperang dan mengangkat senjata kepada kaum Quraish untuk mempertahankan hak hidup dan hak beragama mereka. Saat itu bahkan suara adzanpun bisa membuat mulut seorang muslim dirobek dengan pedang oleh kaum Quraish. Tanpa perintah tersebut sebenarnya Nabi tidak ingin berperang karena beliau adalah orang yang pemaaf, pengasih dan panjang sabar.
Hal ini mirip seperti nasehat Shri Krishna kepada Arjuna / Pandawa dalam kitab Bhagavad Gita. Saat itu Arjuna enggan berperang karena bagaimanapun pihak Kurawa / Hastinapura adalah saudara & sepupunya sendiri, paman & bibinya sendiri serta kakek & gurunya sendiri. Tapi Shri Krishna mengajarkan bahwa Pandawa harus berperang bukan untuk membalaskan dendam pribadi ataupun merebut kekuasaan melainkan untuk menegakkan kebenaran & keadilan serta melindungi rakyat yang tertindas. Barulah setelah itu mantaplah hati sang Arjuna untuk berperang. Hal yang sama juga pernah dialami oleh Rasulullah SAW.
Dan karena ulama NU tidak memandang situasi bangsa dan situasi dunia ini sebagaimana kondisi di saat Jaman Jahiliyyah dulu maka sangat jaranglah mereka membahas mengenai ayat-ayat perang kecuali mungkin jika Indonesia dijajah lagi barulah mereka akan mengeluarkan fatwa dan seruan jihad untuk yang kedua kali. Hal ini tentu berbeda jauh dengan kaum Wahabi yang selalu menganggap bangsa dan dunia ini sedang dalam “medan pertarungan abadi” sehingga mereka menjadi selalu tegang, mudah marah, gampang tersinggung, jarang tersenyum dan tidak bisa melucu seperti orang NU.
Hanya orang NU lah yang rela mengorbankan nyawanya untuk melindungi saudaranya umat Nasrani saat beribadah di malam Natal tahun 2000 dari serangan bom teroris seperti Riyanto (almarhum), anggota Banser NU dari Mojokerto. Orang Wahabi sangat mustahil melakukan hal tersebut. Berharap orang Wahabi bersedia mengorbankan diri demi orang yang beda agama yang lagi ibadah ibarat berharap girlband K-Pop Korea bikin album religi Islami.
Jadi jangan heran juga jika Anda mendengar fatwa ulama Wahabi yang dengan kurang ajarnya mengatakan bahwa ayahanda dan ibunda Rasulullah SAW masuk neraka karena belum beragama Islam. Jangan heran pula jika mendengar ulama besar Wahabi Arab Saudi mengeluarkan fatwa bahwa bumi ini datar hanya karena ada ayat bahwa “Tuhan menghamparkan bumi untuk manusia”. Juga jangan heran pula jika ada mantan pemimpin partai dan ormas berhaluan Wahabi yang mengatakan bahwa Pilpres 2014 adalah medan jihad. Jangan heran juga jika ada ketua ormas yang mengatakan bahwa ISIS adalah saudara seperjuangan yang tidak boleh dihujat.
Pendek kata, NU akan selalu lebih bijaksana dari Wahabi karena mereka tidak hanya berpikir dengan otak kiri tapi juga dengan otak kanan, hati nurani, kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. Orang NU akan selalu lebih lucu daripada orang Wahabi karena beban hidupnya ringan, damai, suka cita dan hatinya sabar, tidak tegang, berisik, bawel dan ngajak ribut melulu. Itulah sebabnya saya akan selalu mengatakan (sebagaimana bunyi iklan sepeda motor) bahwa “NU tetap yang terbaik.....”
Salam Rahmatan lil Alamin.... Dan ttp salam waras
Saya pernah membaca artikel “Mengapa NU lucu sedang Muhammadiyah tidak” yang ditulis oleh seseorang yang saya lupa namanya. Nah kali ini saya akan menulis hal yang senada tapi tak sama yaitu tentang : “Mengapa NU Bijaksana sedang Wahabi Tidak.”
Ulama-ulama NU lebih bijaksana daripada ulama-ulama Wahabi karena mereka tidak hanya menggunakan kecerdasan intelektualnya saja tapi juga kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritualnya sedang ulama Wahabi seringkali hanya mengandalkan kecerdasan akalnya semata. Ulama-ulama NU menggunakan tidak hanya otak kirinya tapi juga otak kanan dan hati nuraninya sedang ulama Wahabi cenderung lebih menekankan pada otak kirinya saja. Ulama NU tidak hanya mengandalkan kitab yang tertulis saja tapi juga menggunakan kitab alam semesta yang tak tertulis sedang ulama Wahabi cenderung hanya mengandalkan apa yang tertulis saja (dogmatis & tekstual).
Saya bahkan cenderung menganggap kaum Wahabi sebagai kaum penyembah kitab dan pemuja tulisan. Dalam setiap debat mereka akan selalu mengatakan “Mana dalilnya?” seakan hidup ini hanya terdiri dari dalil dan dalil saja. Hidup ini sedemikian rumit dan kompleks dan tidak semua yang ada di kehidupan dan alam semesta ini tertulis di kitab. Contohnya adalah bakteri, sel, DNA, atom, ion, partikel, energi listrik, galaksi, nebula, lubang hitam dan lain-lain. Itu semua tidak ada di kitab tapi bukan berarti tidak ada karena sekarang sains modern sudah menemukan dan bisa menjelaskannya bahkan mengeksplorasi dan memanfaatkannya demi kesejahteraan manusia.
Itulah sebabnya dikatakan “jika seluruh lautan menjadi tinta dan seluruh pohon jadi pena maka itu tidak cukup untuk menuliskan firman / keluasan ilmu Tuhan”. Ulama NU sadar betul hal itu sehingga mereka tidak hanya ngaji kitab yang tertulis tapi juga mengaji / mengkaji kehidupan dan alam semesta yang merupakan kitab yang tak tertulis ini (Kalam Muktabar).
Sekarang ini paham yang berakar pada aliran Wahabi menjamur dan berkembang pesat di seluruh dunia. Mereka menyerukan Pan Islamisme dan kejayaan Kerajaan Islam Sedunia sehingga memicu lahirnya berbagai kelompok militan, radikal, fundamentalis, ekstremis hingga gerakan teroris. Tapi mengapa NU tidak ikut-ikutan ataupun terlibat dalam trend tersebut? Sebabnya NU sudah memiliki pedoman sendiri yang berbeda dengan pedoman yang diikuti kaum Wahabi. Lho bukankah pedoman orang NU dan orang Wahabi adalah sama-sama Al Quran dan Al Hadist? Nah disinilah pembicaraan akan menjadi semakin menarik.
Kaum Wahabi sangat gemar membahas dan membicarakan mengenai isu jihad dan perjuangan agama yang katanya mereka ikuti berdasar apa yang tertulis dalam Al Quran dan Al Hadist. Tapi apakah ulama NU tidak mengetahui hal ini? Jika Al Quran dan Hadistnya sama tapi mengapa NU tidak memiliki atau menghasilkan output pemikiran dan tindakan yang sama dengan kaum Wahabi? Sebenarnya para ulama NU terdahulupun sudah mengetahui bahkan hapal dengan “ayat-ayat perang” tersebut tapi mereka tidak menafsirkannya secara leterlek dan mentah-mentah sebagaimana ulama dan kaum Wahabi yang cenderung hanya menafsirkannya secara tekstual dari domain otak kiri saja tanpa kecerdasan emosional apalagi kecerdasan spiritual. Ulama Wahabi boleh saja hapal ribuan ayat dan kitab tapi belum tentu mereka bisa mengenal Tuhan.
Ulama NU tahu kapan ayat perang tersebut harus dipakai dan kapan tidak perlu dipakai. Ulama NU tahu kapan harus menempatkan sesuatu sesuai dengan waktu, tempat, situasi dan kondisi yang tepat bukan asal hantam kromo tanpa mempertimbangkan berbagai faktor yang kompleks. Tapi di saat situasi dan waktu yang tepat maka ulama NU pun akan menggunakannya contohnya adalah saat Resolusi Jihad dikumandangkan oleh KH. Hasyim Asyari pada tahun 1945 untuk membela negara dan mengusir penjajah dari Bumi Pertiwi. Tapi beliau tidak menggunakan ayat perang tersebut untuk merebut pemerintahan yang sah apalagi melakukan makar dan kudeta meskipun umat muslim khususnya NU adalah mayoritas di negeri ini. Hal ini berbeda dengan kaum Wahabi yang akan selalu menggunakan ayat-ayat perang tersebut untuk berusaha meraih, merebut dan mempertahankan kekuasaan.
Ulama NU bukan sekedar ulama penyembah kitab dan pemuja ayat / tulisan. Mereka juga adalah para sufi yang berusaha mencari hidayah, inspirasi batin dan petunjuk ruhani dari Tuhan yang kadang bahkan tidak tertulis di dalam kitab manapun. Itulah sebabnya kaum Wahabi sering menganggap ulama NU sesat, murtad, bid’ah, kafir dan munafik padahal justru mereka sendiri yang sebenarnya gagal paham dan tidak mampu mengetahui kedalaman dan keluasan ilmu para kyai sepuh NU.
Mengapa para ulama NU sangat jarang membahas tentang ayat-ayat perang sebagaimana kaum Wahabi? Sebabnya adalah para ulama NU ini bisa memahami kehendak Tuhan dan teladan Nabi Muhammad SAW. Jamannya Nabi Muhammad adalah jaman yang berbeda dengan jaman kita sekarang. Saat itu umat Islam ditindas dan dianiaya secara luar biasa oleh kaum Quraish sehingga Malaikat Jibrilpun memerintahkan kepada Nabi untuk berperang dan mengangkat senjata kepada kaum Quraish untuk mempertahankan hak hidup dan hak beragama mereka. Saat itu bahkan suara adzanpun bisa membuat mulut seorang muslim dirobek dengan pedang oleh kaum Quraish. Tanpa perintah tersebut sebenarnya Nabi tidak ingin berperang karena beliau adalah orang yang pemaaf, pengasih dan panjang sabar.
Hal ini mirip seperti nasehat Shri Krishna kepada Arjuna / Pandawa dalam kitab Bhagavad Gita. Saat itu Arjuna enggan berperang karena bagaimanapun pihak Kurawa / Hastinapura adalah saudara & sepupunya sendiri, paman & bibinya sendiri serta kakek & gurunya sendiri. Tapi Shri Krishna mengajarkan bahwa Pandawa harus berperang bukan untuk membalaskan dendam pribadi ataupun merebut kekuasaan melainkan untuk menegakkan kebenaran & keadilan serta melindungi rakyat yang tertindas. Barulah setelah itu mantaplah hati sang Arjuna untuk berperang. Hal yang sama juga pernah dialami oleh Rasulullah SAW.
Dan karena ulama NU tidak memandang situasi bangsa dan situasi dunia ini sebagaimana kondisi di saat Jaman Jahiliyyah dulu maka sangat jaranglah mereka membahas mengenai ayat-ayat perang kecuali mungkin jika Indonesia dijajah lagi barulah mereka akan mengeluarkan fatwa dan seruan jihad untuk yang kedua kali. Hal ini tentu berbeda jauh dengan kaum Wahabi yang selalu menganggap bangsa dan dunia ini sedang dalam “medan pertarungan abadi” sehingga mereka menjadi selalu tegang, mudah marah, gampang tersinggung, jarang tersenyum dan tidak bisa melucu seperti orang NU.
Hanya orang NU lah yang rela mengorbankan nyawanya untuk melindungi saudaranya umat Nasrani saat beribadah di malam Natal tahun 2000 dari serangan bom teroris seperti Riyanto (almarhum), anggota Banser NU dari Mojokerto. Orang Wahabi sangat mustahil melakukan hal tersebut. Berharap orang Wahabi bersedia mengorbankan diri demi orang yang beda agama yang lagi ibadah ibarat berharap girlband K-Pop Korea bikin album religi Islami.
Jadi jangan heran juga jika Anda mendengar fatwa ulama Wahabi yang dengan kurang ajarnya mengatakan bahwa ayahanda dan ibunda Rasulullah SAW masuk neraka karena belum beragama Islam. Jangan heran pula jika mendengar ulama besar Wahabi Arab Saudi mengeluarkan fatwa bahwa bumi ini datar hanya karena ada ayat bahwa “Tuhan menghamparkan bumi untuk manusia”. Juga jangan heran pula jika ada mantan pemimpin partai dan ormas berhaluan Wahabi yang mengatakan bahwa Pilpres 2014 adalah medan jihad. Jangan heran juga jika ada ketua ormas yang mengatakan bahwa ISIS adalah saudara seperjuangan yang tidak boleh dihujat.
Pendek kata, NU akan selalu lebih bijaksana dari Wahabi karena mereka tidak hanya berpikir dengan otak kiri tapi juga dengan otak kanan, hati nurani, kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. Orang NU akan selalu lebih lucu daripada orang Wahabi karena beban hidupnya ringan, damai, suka cita dan hatinya sabar, tidak tegang, berisik, bawel dan ngajak ribut melulu. Itulah sebabnya saya akan selalu mengatakan (sebagaimana bunyi iklan sepeda motor) bahwa “NU tetap yang terbaik.....”
Salam Rahmatan lil Alamin.... Dan ttp salam waras
Komentar
Posting Komentar